Sebuah contoh teladan dapat dilihat dari Martinus J.G. Veltman, seorang peraih hadiah Nobel fisika pada tahin 1999 untuk temuannya, partikel elementer. Ia terdorong untuk belajar fisika setelah membaca The Meaning of Relativity karangan Einstein. Membaca memang dapat menimbulkan inspirasi.
Membaca merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan. Sebagai perbandingan di Jepang, rata-rata 4 buku dibaca oleh 1 orang. Sedangkan di nagara kita, 1 buku untuk10 orang. Hal ini memang bisa dimaklumi bila melihat harga buku di Jepang tersebut memang lebih murah karena jumlah produksi dari penerbit memang luar biasa besar untuk mengimbangi jumlah pembaca yang banyak. Sedangkan di Indonesia, faktor pajak dari pemerintah menyebabkan harga buku jadi lebih tinggi. Akibatnya, banyak orang yang membajak buku.
Prof. Dr. Haryati Soebadio (kala itu Dirjen Kebudayaan RI menyatakan hasil survey UNESCO yang mencatat bahwa Indonesia berada diperingkat juru kunci dalam penerbitan buku di dunia. Para pengamat sosial dan budaya menilai bahwa hal itu memang karena tradisi lisan masih lebih besar pengaruhnya dikalangan masyarakat kita. Begitu pula dengan Prof. Dr. Winarno Surachmad, mengatakan bangsa Indonesia termasuk malas membaca dan membeli buku.
Membaca penting dilakukan untuk menggali informasi. Informasi akan membuatmu untuk memperkuat daya nalar dan daya ingat. Membaca juga merupakan kegiatan menyeleksi dengan mengambil hal-hal yang bermanfaat buatmu. Membaca bisa menjadi alternatif yang sangat bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Membaca juga merupakan kegiatan rekreatif. Banyak-banyaklah membaca bacaan ringan, seperti majalah hobi (info komputer, chip, dll). Membaca juga dilakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. kemampuan membaca yang baik akan sangat menentukan keberhasilan dalam belajar.
Sumber: Nobel Edumedia

0 komentar:
Posting Komentar